Creative4dvanced’s Weblog

Desember 15, 2008

Kawasan Bebas Nuklir

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 6:17 am

Kairo – Potensi Iran untuk menciptakan persenjataan nuklir dan ‘ancaman’ terhadap dunia yang dimungkinkannya dilihat oleh kebanyakan negara Barat sebagai sebuah krisis yang serius. Walaupun pemerintah Bush dan Uni Eropa telah berusaha keras memberikan alasan bagi Iran untuk menghentikan kegiatan-kegiatan nuklirnya dengan mengancam penggunaan sanksi dan bahkan kekerasan, ini tidak banyak berarti untuk menghentikan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Sebaliknya, sebuah proposal terbaru yang mencakup berbagai alasan untuk menghentikan pengayaan uranium telah diajukan dengan tanggapan bahwa Iran akan memberikan jawaban pada akhir Agustus, waktu yang menurut para menteri luar negeri negara Barat, dianggap terlalu lama.

Tetapi, orang Arab dan juga Muslim melihat serangan Bush atas proyek nuklir Iran sebagai sebuah contoh dari penyalahgunaan kekuasaan dan satu indikator lain dari standar ganda Amerika.

Bisa dinyatakan bahwa Amerika Serikat mencoba menghentikan Ahmadinejad karena jika Iran menjadi sebuah kekuatan nuklir maka ia dapat menggoyang stabilitas kekuatan di kawasan tersebut, dengan kemungkinan akan mendorong bangsa Arab dan Muslim lain untuk mencoba menguasai persenjataan nuklir demi menghadapi Iran yang memiliki kemampuan militer lebih kuat.

Karena kekuatan nuklir mampu memberi kekuatan tawar menawar bagi negara yang memilikinya dan dapat digunakan sebagai alat penangkalan, hal ini pada gilirannya akan melemahkan kemampuan Amerika Serikat dalam mempengaruhi masa depan kawasan tersebut, dan mungkin akan mengakibatkan terjadinya perang nuklir.

Amerika Serikat memandang dirinya sebagai “hegemon yang bijak” dan karenanya merasa memiliki hak untuk membangun persenjataan nuklir demi melindungi dirinya sendiri dan juga seluruh dunia dari ancaman rezim-rezim merah dan ancaman terhadap keamanan internasional dan domestik. Sedikit negara yang mau mempermasalahkan hal ini, karena tidak ada satu negarapun yang ingin melihat status quo yang didukung oleh penangkalan – perdamaian antara kekuatan utama nuklir dunia (AS, Cina, dan Rusia) – merasa terganggu.

Di dunia Arab, penerimaan atas status quo ini tidak cukup merata, yang merupakan sebagian alasan mengapa bahkan negara Arab yang anti-Iran pun tidak menyukai tekanan atas Iran. Dukungan AS bagi Israel, yang saat ini merupakan satu-satunya kekuatan nuklir di wilayah tersebut, memiliki arti bahwa dorongan AS untuk mendesak Iran menghentikan persenjataan nuklirnya dianggap tidak sah. Negara-negara Arab dengan cepat menunjuk bahwa AS mungkin bukan kekuatan yang mencintai perdamaian dan bertanggung jawab seperti yang diakuinya, mengingat begitu banyaknya perang yang melibatkan negara tersebut dan statusnya sebagai satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir.

Terlepas dari catatannya yang buruk dalam hal penekanan dan penindasan bangsa-bangsa Palestina, Israel adalah sekutu dan klien Amerika Serikat, sehingga ia berhak untuk di-‘nuklir’-kan.

Terlepas dari keinginan untuk menantang kedudukan Israel di Timur Tengah, dorongan Iran yang jelas untuk membangun persenjataan nuklir sangat erat berhubungan dengan keprihatinan-keprihatinan keamanannya sendiri yang semakin memuncak. Hingga saat ini, tidak ada satu pun kekuatan Barat yang telah membuat usulan-usulan untuk mengatasi keprihatinan yang sah ini.

Pertama, Turki, sekutu Israel dan AS, terletak di perbatasan barat laut Iran, dan kedua belah pihak telah saling menuding satu sama karena mendukung gerakan-gerakan pemberontak di dalam wilayah perbatasan masing-masing. “Pangkalan” Amerika lain yang bermasalah dengan Iran adalah Azerbaijan, yang telah mencoba selama bertahun-tahun untuk menjadi anggota NATO dan sangat dekat dengan Turki.

Bahkan, Azerbaijan telah memainkan peran sebagai tuan rumah bagi kehadiran militer Amerika. Kedua negara sedang terlibat dalam perselisihan atas sumber-sumber minyak bumi di Laut Kaspia, dan Iran telah mengancam akan mengambil tindakan militer jika Azerbaijan berusaha untuk mengembangkan Laut Kaspia yang kaya minyak tersebut.

Letak geografisnya yang berada di tengah Asia juga membuat Iran merasa sangat mudah diserang. Turki dilindungi oleh NATO, sementara negara-negara tetangganya seperti Pakistan dan India keduanya memiliki persenjataan nuklir, dan Iran hanya dipisahkan oleh Laut Kaspia dari Rusia yang semakin nasionalis. Terlebih lagi, pasukan-pasukan Amerika hadir di ketiga negara tetangganya.

Dengan keadaan keamanan yang bahkan akan membuat rezim yang tidak terlalu paranoid harus berpikir dua kali, tidak heran jika Iran beralasan dan mungkin akan meneruskan penelitian nuklirnya. Mengingat kelebihan-kelebihan yang dimiliki Israel, dengan teknologinya yang lebih baik dan berbagai sistem persenjataan nuklir, atas dunia Arab, pada akhirnya satu-satunya cara untuk membatasi perlombaan persenjataan nuklir di wilayah tersebut adalah dengan membentuk kawasan bebas nuklir di Timur Tengah, dan yang mengharuskan Israel (yang secara resmi tidak akan mengakui atau menolak memiliki persenjataan nuklir) untuk menghancurkan persenjataan nuklir mereka. Walaupun serangan militer atau sanksi dapat mengganggu program Iran, ketidakseimbangan kekuatan nuklir di Timur Tengah memiliki arti bahwa suatu saat tidak dapat dihindari ketika sebuah negara lain akan mencoba-coba menguasai persenjataan nuklir untuk menyeimbangkan ancaman-ancaman keamanan. Jika bukan Iran, mungkin Irak dalam waktu sepuluh tahun mendatang di bawah diktator baru, atau bahkan Arab Saudi, jika keluarga kerajaan yang pro-Barat telah dijatuhkan.

Jika Barat benar-benar peduli dengan perdamaian di Timur Tengah dan ingin membatasi penyebaran persenjataan nuklir, ia harus mengakhiri politik standar ganda dan mulai mendorong sebuah penyelesaian yang akan memastikan bahwa tak satupun negara akan diuntungkan dengan membangun persenjataan nuklir – suatu kawasan yang benar-benar bebas nuklir, yang di dalamnya termasuk Israel.

*********

Nancy El-Gindy adalah mahasiswi American University, Kairo dan mantan peserta program dialog online Arab-Amerika “Soliya”. Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan bisa diakses di http://www.commongroundnews.org.

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 4 Juli 2006

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: