Creative4dvanced’s Weblog

Desember 15, 2008

Era Baru Kedokteran Nuklir

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 5:55 am

“Pelayanan dokter nuklir di Indonesia berpusat di Jawa. Dan di Sumatera terdapat dua tempat pusat pelayanan. Dari kedua tempat itu, yang aktif baru di Padang.” Demikan disampaikan Basuki Hidayat, dr., Sp.KN, Ketua Pelaksana Kongres Nasional Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI) VI dan Perhimpunan Kedokteran dan Biologi Nuklir Indonesia (PKBNI) VIII.

Acara yang bertema “Menyongsong Era Pencitraan Menggunakan Positron Emission Tomography (PET)” merupakan hasil kerja sama PKNI dan PKBNI serta Asian School of Nuclear Medicine (ASNM). Perhelatan ini diselenggarakan di Hotel Aston Tropicana, Jalan Cihampelas, Bandung, dan berlangsung selama tiga hari (04-06/12).
Kongres tersebut dibuka oleh Prof. Johan S. Mashjur, dr., Sp.PD-KEMD., Sp.KN, salah seorang tokoh kedokteran nuklir yang juga Sekretaris Senat Unpad, dan dihadiri berbagai pembicara dan peserta dari Indonesia dan mancanegara. Beberapa di antaranya ialah; Prof. Ajit K Padhy, MD, FAMS, (Singapura), Prof. Teofilo O. L. San Luis, Jr., MD, MPA (Filipina), Manoefris Kasim, MD, FIHA, FASCC, FACC (Indonesia), dll.

Dalam orasi pembukaannya, Prof. Johan menyambut baik penyelenggaraan Kongres Nasional ini. Ia menyadari, kedokteran nuklir di Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sedikit lambat daripada perkembangan kedokteran nuklir di negara tetangga. Hal ini merupakan sebuah tantangan yang harus dijawab oleh para penggiat kedokteran nuklir di Indonesia.

Sementara itu, dr. Basuki Hidayat mengatakan kongres ini merupakan upaya menyongsong era baru dalam dunia kedokteran nuklir di Indonesia. Hal ini dikarenakan baru diperkenalkan dan digunakannya Positron Emission Tomography (PET) di Indonesia. Diharapkan dengan adanya PET, maka semakin banyak masyarakat Indonesia yang memanfaatkannya, baik sebagai sarana diagnostik maupun uji saring (screaning test).

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Myocardial Perfussion Imaging as a Modality for Assesment of atherosclerosis“, Manoefris Kasim, MD, FIHA, FASCC, FACC menjelaskan, bagi pasien asimtomatik (tidak ada keluhan), penilaian awal sebaiknya dilakukan dengan mengestimasi risiko timbulnya Infark Miokard Akut (IMA) dan kematian yang disebabkan kardiak untuk 10 tahun. Proses ini mengacu pada Frammingham Risk Score (FRS) yang direkomendasikan Adult Treatment Program (ATP) III. Selain itu, juga diselidiki rekam jejak kesehatan si pasien dan keluarga, serta ada tidaknya sindroma metabolik. Selanjutnya, pasien akan dikategorikan ke dalam risiko IMA rendah, menengah, atau tinggi, dan mortalitas kardiak 10 tahun sebesar kurang dari 10%, 10% sampai 20%, hingga lebih dari 20%.

Pasien yang berisiko rendah hanya memerlukan konseling, sedangkan pasien yang berisiko tinggi (>20%) dikenakan pemeriksaan iskemia miokard. Pasien yang digolongkan memiliki resiko tinggi dari hasil pencitraan nuklir merupakan kandidat untuk tindakan angiografi koroner lanjutan.

Ia menyimpulkan, berbagai modalitas diagnostik invasif seperti uji latih jantung, ekokardiografi, pencitraan kardiak dengan CT dan CMR, serta pencitraan radionuklida berperan penting dalam menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan pasien dengan Penyakit Arteri Koroner (PAK). Pencitraan Radionuklida dalam bidang kardiologi dapat menentukan perfusi, viabilitas miokard dan fungsi ventrikel. Pemeriksaan MPI dengan uji latih dapat membantu dalam stratifikasi risiko dan menentukan rencana penatalaksanaan pada pasien dengan kemungkinan atau telah didiagnosis PAK. Pemeriksanaan SPECT dipandu EKG (ECG gated SPECT) dapat membantu menentukan pasien yang akan mendapat keuntungan terbesar dari tindakan angiografi koroner dan revaskularisasi.

Sementara itu, Edward-Bengie L. Magsombol, MD. FPCP, FPCC, DASNC mengevaluasi miokardial dengan menggunakan Echo, SPECT, dan PET. Dalam makalahnya, Edward Magsombol mengatakan, diperlukannya pemisahan antar hibernasi miokardial. Seperti yang telah diketahui, hibernasi miokardial dalam kaitannya dengan perbedaan respon pada intervensi. Hibernasi miokardial memperbaiki sebagian atau keseluruhan respon pada revaskularisasi sementara infraksi miokardium tidak diuntungkan oleh operasi atau catheter-based.

Di sesi selanjutnya, Dr. Erwinanto, Sp.JP., mencermati apa yang diharapkan dari pencitraan radionuklida dipandang dari perspektif kardiologis. Seperti yang telah diketahui, petunjuk pedoman yang merekomendasikan (kelas IA) Myocardial Perfusion Imaging (MPI) dalam menaksir resiko miokardial pada pasien dengan sindrom koroner akut (ACS), yang ditandai dengan ECG dan serum markers ialah nondiagnostik. Bagaimanapun juga, penggunaan MPI secara rutin dalam iskemia yang terdokumentasikan secara klinis tidak direkomendasikan (kelas IIIA). (antz)

Sumber: unpad.ac.id

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: