Creative4dvanced’s Weblog

Oktober 17, 2008

Tragedi Basse di Negara Pancasila

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 2:55 am

Kamis, 06 Maret 2008 ( Bersihar Lubis, Wartawan tinggal di Depok ), Ibu hamil tujuh bulan yang meninggal dunia karena tiga hari kelaparan tidak makan di Makassar itu, menjadi berita nasional. Hanya berselang lima menit setelah ibu empat anak ini, Nyonya Dg Basse, 27 tahun meninggal dunia, putranya yang ketiga, Bahir, 5 tahun, menyusul sang ibunda menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sedemikian miskinnya, Basri, 40 tahun, suami Basse adalah seorang pengayuh becak yang gemar mereguk alkohol. Mungkin untuk melupakan penderitaan, meski hanya sesaat, suatu alternatif yang tak terpuji.
Namun seberbahaya peluru tentara lebih berbahaya lagi perut yang lapar. Maklum, saban hari mereka hanya mampu memakan nasi bubur tanpa sayur dan lauk pauk ikan, apalagi telur dan daging. Bahkan hanya bergulai minyak goreng bekas yang tidak hygenis. Kerap pula nasi berteman garam belaka. Hari itu pun tiba, 29 Februari 2008 silam, Dg Basse dan Bahir pergi mengetuk ”pintu” Tuhannya, dan tak kembali lagi. Innalilahhiwainnail ahirajiun.
Kita kenang lagi Slamet, penjual gorengan yang mati bunuh diri pada 16 Januari 2008 lalu di Pandeglang, Banten, karena ia tak mampu membeli tempe setelah kacang kedelai melonjak 100 persen dari Rp3.500 sekilogram. Kisah sejenis kerap membuat kita terkesiap dan trenyuh, seperti tewasnya belasan penduduk Nusa Tenggara Barat pada 2005 lampau, karena mengidap busung lapar, justru di daerah lumbung padi.
Siapa gerangan yang menghadapkan Basse dan putranya menempuh lorong yang kelam di Negara Pancasila ini? Benarkah negara telah memerosokkkan orang-orang malang itu ke pojok alternatif yang paling mengerikan? Basse susah hidupnya, meskipun UUD 1945 menegaskan bahwa orang miskin dan anak terlantar diperlihara oleh Negara. Apakah APBN kita sedemikian kapitalis sampai melupakan berjuta orang seperti Basse? Padahal negeri kapitalis di Eropa dan Amerika bisa lebih sosialis dengan berbagai subsidi kepada orang miskin.
Tak disangkal, pemerintahan Yudhoyono telah menetapkan kebijakan yang pro kaum miskin. Beberapa tahun terakhir ini telah diluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Miskin, yang menyalurkan beras miskin (raskin) kepada penduduk miskin. Tahun demi tahun bujetnya menaik, yang menandai bahwa pemerintah peduli kepada masyarakat miskin. Tapi mengapa Basse dan keluarganya tak tersentuh?
Ekonomi vs Sosial
Seperti biasa, pledoi pun bermunculan. Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajudin menyebut bahwa keluarga Basse tak terdata di kotanya. Ia pendatang dari luar kota. Dibantah pula, keluarga Basse tak mengidap busung lapar, melainkan terkena diare. Penduduk sekitar pun tak segera membawa keluarga Basse ke rumah sakit, padahal ada Kepala RT, RW dan warga. Begitulah, yang kita dengar dalam acara Economics Challenger di MetroTV yang dipandu Desy Anwar itu, Selasa 3 Maret 2008 lalu.
Deputi Menko Kesra Sudjana Royat juga menyoal tak berfungsinya secara efektif kelompok masyarakat yang dibentuk dengan program nasional pemberdayaan itu. Pemerintah pusat hanya penentu kebijakan, sedang implementasi di tangan daerah. Kira-kira, atas sudah oke tapi bawah belum. Aneh. Bukankah, ”atas” dan ”bawah” itu, sama-sama pemerintah?
Untunglah, Imam Sugema, ekonom INDEF itu mengingatkan bahwa raskin itu hanya diterima oleh 30 persen dari orang miskin, baik karena tidak terdata, maupun karena penerimanya bukan orang yang berhak. Bahkan, jika angka garis kemiskinan dibatasi pada yang berpendapatan 50 sen dolar AS sehari, sesungguhnya orang-orang yang berpendapatan di atas 50 sen dolar AS pun masih merasa dan terkategori miskin, apalagi digenjot inflasi yang terjadi saban tahun.
Tak terhindarkan lagi, ternyata program dengan implementasi yang tidak efektif ibarat batangan es yang meleleh dan kopong dalam perjalanan. Faktor penunjang, yang sifatnya nonteknis tidak diperhitungkan, seperti kesiapan aparat di daerah. Tak terkecuali warga di kelurahan dan pedesaan hanya diperlakukan sebagai obyek, dan belum merupakan subyek gerakan pemberdayaan kaum miskin, sehingga membuat program bersifat elite. Rakyat hanya menjadi penonton.
Apa boleh buat, orang-orang seperti Basse bagaikan man stand alone. Padahal, kata Jaspers, the man non stand alone. Kesendirian, solitariness, atau dibikin sepi, telah membuat Basse dan berjuta lainnya, menjadi kalah dan dikalah-kalahkan. Tanggung jawab sosial, dalam bahasa filsuf Heidegger, mestilah ditularkan oleh kabinet Yudhoyono-Jusuf Kalla sehingga menjadi fakta sosial.
Kasus Basse sudah mengemuka sejak awal Orde Baru. Kala itu, arsitek perekonomian pemerintah seperti Wijoyo Nitisatro cs lebih mengutamakan pembangunan ekonomi, dan membelakangkan pembangunan sosial yang disuarakan oleh sosiolog Selo Soemarjan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi melejit tapi problem sosial seperti jurang kaya dan si miskin menganga lebar. Mengapa paradigma itu tak didekonstruksi saja, atau dilakukan secara berimbang?
Tidak siapnya aparat pemerintah di tingkat operasional, maupun miskinnya kepedulian penduduk jelas merupakan problem sosial yang perlu dibangun, sehingga pada gilirannya tidak gagap dan gugup menerima pembangunan perekonomian, termasuk pemberdayaan masyarakat miskin. Sebelum pembangunan perekonomian take off, mestilah diawali dengan pembangunan insan pembangun alias pembangunan sosial. Dengan cara itu, program apapun yang mengatasnamakan rakyat menjadi tidak elit, tetapi disangga oleh masyarakat secara partisipatif. Penduduk menjadi subyek, bukan obyek yang cuek.
Menganggap kemiskinan semata karena bodoh, malas, tak modern, tidak punya kapital adalah kesombongan intelektual kaum developmentalisme ala Rostow dan Mc Cleland. Seseorang menjadi petani gurem, mungkin, karena kaum pemodal telah membeli tanah rakyat dengan harga sebatang rokok per meter, dan kemudian membangun lapangan golf atau pabrik di pedesaan. Atau karena tidak punya akses kepada market dan luput dari perhatian pemerintah, seperti Basse. Benarkah ekonom Andre Gunder Frank yang berkata, bahwa agar bisa kaya harus ada yang dimiskinkan?

sumber: www.riautoday.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: