Creative4dvanced’s Weblog

Oktober 17, 2008

Kaya Tapi Sengsara

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 3:34 am

Indonesia memang kaya puspa dan satwa. Sederet rekor dan catatan kekayaan ditorehkan oleh negeri ini. Namun Indonesia justru penyumbang laju kepunahan kehati terbesar di dunia. Makin lama, semakin panjang saja daftar jenis flora-fauna Indonesia yang masuk dalam kategori terancam kepunahan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan puspa dan satwa kita ?
Bicara tentang flora dan fauna tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang hutan, khususnya hutan tropis. Keanekaragaman flora dan fauna merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hutan tropis. Lebih dari 70 persen jenis tumbuhan dan satwa (berarti lebih dari 13 juta jenis) di dunia hidup di hutan tropis. Berbeda dengan hutan di daerah lain yang jenis pohonnya hanya beberapa gelintir saja, di hutan tropis dapat ditemukan lebih dari 200 jenis pohon per hektarnya.
Indonesia pernah dikenal sebagai salah satu negara yang paling kaya bukan hanya dalam hal luas hutannya tetapi juga keanekaragaman hayati yang dimilikinya. Indonesia memiliki 515 jenis mamalia alias binatang menyusui (urutan kedua di dunia, kita hanya kalah tipis dari Brazil), 39 persennya endemik Indonesia atawa tidak dapat dijumpai di negara lain. Sementara itu, meskipun kita berada di urutan kelima dalam hal jumlah jenis burung yang dimiliki (total 1,531 jenis) namun kita merupakan negara paling kaya dengan jumlah jenis burung sebaran-terbatas yang terbanyak di dunia, dan 397 jenis burung hanya dapat ditemukan di negeri kita.
Dalam hal kekayaan jenis ikan air tawar, Indonesia yang memiliki sekitar 1.400 jenis hanya dapat disaingi oleh Brazil. Di bidang kelautan, Indonesia memiliki kekayaan jenis terumbu karang dan ikan yang luar biasa, termasuk 97 jenis ikan karang yang hanya hidup di perairan laut Indonesia. Dalam pertemuan “Defying Ocean’s End” di Mexico yang juga dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI Juni tahun lalu bahkan telah diakui bahwa Kepulauan Indonesia merupakan salah satu pusat kekayaan karang dan ikan di dunia.
Tentang tumbuhan, kekayaan Indonesia juga tidak diragukan sebagai lima besar negara terkaya dengan lebih dari 38.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi alias tumbuhan yang memiliki akar-batang-daun yang jelas dapat dibedakan. Dengan 477 jenis dan 225 di antaranya endemik, Indonesia memimpin dalam kepemilikan jumlah jenis palem di dunia.

Kita akan jatuh miskin…
Ironisnya, berbagai pernyataan tentang betapa kaya Indonesia rupanya justru semakin membuat kita miskin. Lantaran mengira kaya, tampaknya kita jadi terbuai dan malas untuk berbuat sesuatu. Atau, yang tidak kalah buruknya, sebagian orang baik dari dalam maupun luar negeri justru dengan semena-mena melakukan eksploitasi sumberdaya yang sebenarnya sangat rentan terhadap kerusakan tersebut. Akibatnya, sebagian besar hutan kita kini telah rusak parah. Banyak jenis tumbuhan dan satwa kini berada di ambang kepunahan…
Kerusakan hutan di Indonesia kini telah mencapai pada satu titik yang sangat mengkawatirkan. Pengrusakan yang terjadi hingga saat ini telah cukup untuk memicu kerusakan selanjutnya secara otomatis, yang dilakukan oleh api kebakaran hutan. Dengan perubahan kualitas hutan yang tercapai saat ini, api yang biasanya sangat sulit untuk menyebar di hutan, kini dengan mudah dapat melahap jutaan hektar hutan yang telah terdegradasi.
Secara reguler sejak 1992 kebakaran hutan selalu menghantam hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia. Kebakaran terhebat terjadi tahun 1997, khususnya di Sumatra dan Kalimantan yang mengakibatkan bukan hanya kehilangan hutan dan satwa liar secara langsung, tetapi juga asap yang mengakibatkan gangguan kesehatan dan terhentinya berbagai kegiatan, termasuk banyak penerbangan di Kawasan Asia Tenggara.
Proses kerusakan otomatis tersebut terlihat jelas dari laporan tentang laju kerusakan hutan yang meningkat tak terkendali di tengah meningkatnya kepedulian dan usaha untuk menurunkan laju kerusakan yang ada.
Pada tahun 1980-an, laju kerusakan hutan diperkirakan sekitar satu juta hektar pertahun. Angka tersebut meningkat drastis pada tahun 1990-an, menjadi 1,7 juta hektar pertahun. Perhitungan yang dilakukan antara tahun 1996 hingga 2002 menghasilkan angka sekitar dua juta hektar per tahun. Tahun 2003, laporan sementara menyebutkan bahwa laju kerusakan hutan kita mencapai lebih dari 3 juta hektar per tahun. Di antara jumlah tersebut, kontribusi kebakaran (pembakaran ?) hutan jelas sangat besar.
Dengan kecenderungan yang seperti ini, tampaknya kita memang sulit sekali untuk menghindar dari terwujudnya ramalan Bank Dunia yang menyatakan bahwa hutan dataran rendah di Sumatra akan lenyap pada tahun 2005, sementara di Kalimantan tahun 2010.
Itu sebabnya, usaha untuk menghentikan perusakan hutan tidak cukup dilakukan hanya dengan menghentikan kegiatan yang sifatnya merusak saja. Selain menghentikan perusakan lebih lanjut pada hutan-hutan alami, kita juga dituntut untuk melawan kecenderungan yang terjadi dengan berbagai macam usaha rehabilitasi lahan dan hutan yang telah rusak.
Bersamaan dengan hilangnya hutan hilang pulalah kekayaan jenis-jenis flora dan fauna kita. Akibatnya, kita bukan saja kehilangan kualitas hidup dan sumberdaya yang dapat dimanfaatkan secara lestari, namun juga harus bersiap-siap untuk menuai lebih banyak bencana.
Banjir besar di Jakarta tahun 2002, tanah longsor di Pacet, Mojokerto yang menewaskan 31 orang, dan yang terbaru banjir bandang di Sungai Bohorok yang menewaskan 90-an orang plus puluhan atau mungkin ratusan lainnya yang hilang adalah contoh-contoh bencana yang mulai dituai akibat kerusakan hutan sebagai daerah tangkapan air. Kitapun tentunya belum lupa dengan kekeringan yang telah menyebabkan rawan pangan di sebagian Pulau Jawa beberapa bulan lalu.
Dalam banyak kasus seperti itu, penyebab kerusakan hutan biasanya bukanlah mereka yang secara langsung akan menanggung bencana yang terjadi. Namun, secara nasional kita semua jelas dirugikan. Oleh sebab itu, intervensi pemerintah merupakan salah satu kunci penyelesaian permasalahan. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengatur misalnya agar masyarakat di hulu sungai yang merupakan daerah tangkapan air memiliki insentif yang cukup untuk mau menjaga hutan. Sebaliknya masyarakat hilir harus berani membayar lebih untuk ‘pengorbanan’ masyarakat di hulu.

sumber: Harian umum sinar harapan Senin, 22 September 2008

2 Komentar »

  1. koleksi artikel yang bagus.

    Nama anggota kelompok dan NIM tolong dituliskan di blog kelompok ini ya…Terima kasih.

    Komentar oleh apiqquantum — Oktober 20, 2008 @ 12:58 am

  2. # apiqquantum,
    nama anggota sudah kami tulis pada blogroll di bagian kanan blog ini. Mungkin dapat saya tulis ulang:
    1. Fran Kurnia (10205060)
    2. Ahmad Fauzi (10303012)
    3. Adisti Meidinasari (10306001)
    4. Mutia Santoso (10306005)

    Komentar oleh Fran Kurnia — November 12, 2008 @ 7:04 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: