Creative4dvanced’s Weblog

Oktober 17, 2008

Kaya Tapi Sengsara

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 3:34 am

Indonesia memang kaya puspa dan satwa. Sederet rekor dan catatan kekayaan ditorehkan oleh negeri ini. Namun Indonesia justru penyumbang laju kepunahan kehati terbesar di dunia. Makin lama, semakin panjang saja daftar jenis flora-fauna Indonesia yang masuk dalam kategori terancam kepunahan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan puspa dan satwa kita ?
Bicara tentang flora dan fauna tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang hutan, khususnya hutan tropis. Keanekaragaman flora dan fauna merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hutan tropis. Lebih dari 70 persen jenis tumbuhan dan satwa (berarti lebih dari 13 juta jenis) di dunia hidup di hutan tropis. Berbeda dengan hutan di daerah lain yang jenis pohonnya hanya beberapa gelintir saja, di hutan tropis dapat ditemukan lebih dari 200 jenis pohon per hektarnya.
Indonesia pernah dikenal sebagai salah satu negara yang paling kaya bukan hanya dalam hal luas hutannya tetapi juga keanekaragaman hayati yang dimilikinya. Indonesia memiliki 515 jenis mamalia alias binatang menyusui (urutan kedua di dunia, kita hanya kalah tipis dari Brazil), 39 persennya endemik Indonesia atawa tidak dapat dijumpai di negara lain. Sementara itu, meskipun kita berada di urutan kelima dalam hal jumlah jenis burung yang dimiliki (total 1,531 jenis) namun kita merupakan negara paling kaya dengan jumlah jenis burung sebaran-terbatas yang terbanyak di dunia, dan 397 jenis burung hanya dapat ditemukan di negeri kita.
Dalam hal kekayaan jenis ikan air tawar, Indonesia yang memiliki sekitar 1.400 jenis hanya dapat disaingi oleh Brazil. Di bidang kelautan, Indonesia memiliki kekayaan jenis terumbu karang dan ikan yang luar biasa, termasuk 97 jenis ikan karang yang hanya hidup di perairan laut Indonesia. Dalam pertemuan “Defying Ocean’s End” di Mexico yang juga dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI Juni tahun lalu bahkan telah diakui bahwa Kepulauan Indonesia merupakan salah satu pusat kekayaan karang dan ikan di dunia.
Tentang tumbuhan, kekayaan Indonesia juga tidak diragukan sebagai lima besar negara terkaya dengan lebih dari 38.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi alias tumbuhan yang memiliki akar-batang-daun yang jelas dapat dibedakan. Dengan 477 jenis dan 225 di antaranya endemik, Indonesia memimpin dalam kepemilikan jumlah jenis palem di dunia.

Kita akan jatuh miskin…
Ironisnya, berbagai pernyataan tentang betapa kaya Indonesia rupanya justru semakin membuat kita miskin. Lantaran mengira kaya, tampaknya kita jadi terbuai dan malas untuk berbuat sesuatu. Atau, yang tidak kalah buruknya, sebagian orang baik dari dalam maupun luar negeri justru dengan semena-mena melakukan eksploitasi sumberdaya yang sebenarnya sangat rentan terhadap kerusakan tersebut. Akibatnya, sebagian besar hutan kita kini telah rusak parah. Banyak jenis tumbuhan dan satwa kini berada di ambang kepunahan…
Kerusakan hutan di Indonesia kini telah mencapai pada satu titik yang sangat mengkawatirkan. Pengrusakan yang terjadi hingga saat ini telah cukup untuk memicu kerusakan selanjutnya secara otomatis, yang dilakukan oleh api kebakaran hutan. Dengan perubahan kualitas hutan yang tercapai saat ini, api yang biasanya sangat sulit untuk menyebar di hutan, kini dengan mudah dapat melahap jutaan hektar hutan yang telah terdegradasi.
Secara reguler sejak 1992 kebakaran hutan selalu menghantam hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia. Kebakaran terhebat terjadi tahun 1997, khususnya di Sumatra dan Kalimantan yang mengakibatkan bukan hanya kehilangan hutan dan satwa liar secara langsung, tetapi juga asap yang mengakibatkan gangguan kesehatan dan terhentinya berbagai kegiatan, termasuk banyak penerbangan di Kawasan Asia Tenggara.
Proses kerusakan otomatis tersebut terlihat jelas dari laporan tentang laju kerusakan hutan yang meningkat tak terkendali di tengah meningkatnya kepedulian dan usaha untuk menurunkan laju kerusakan yang ada.
Pada tahun 1980-an, laju kerusakan hutan diperkirakan sekitar satu juta hektar pertahun. Angka tersebut meningkat drastis pada tahun 1990-an, menjadi 1,7 juta hektar pertahun. Perhitungan yang dilakukan antara tahun 1996 hingga 2002 menghasilkan angka sekitar dua juta hektar per tahun. Tahun 2003, laporan sementara menyebutkan bahwa laju kerusakan hutan kita mencapai lebih dari 3 juta hektar per tahun. Di antara jumlah tersebut, kontribusi kebakaran (pembakaran ?) hutan jelas sangat besar.
Dengan kecenderungan yang seperti ini, tampaknya kita memang sulit sekali untuk menghindar dari terwujudnya ramalan Bank Dunia yang menyatakan bahwa hutan dataran rendah di Sumatra akan lenyap pada tahun 2005, sementara di Kalimantan tahun 2010.
Itu sebabnya, usaha untuk menghentikan perusakan hutan tidak cukup dilakukan hanya dengan menghentikan kegiatan yang sifatnya merusak saja. Selain menghentikan perusakan lebih lanjut pada hutan-hutan alami, kita juga dituntut untuk melawan kecenderungan yang terjadi dengan berbagai macam usaha rehabilitasi lahan dan hutan yang telah rusak.
Bersamaan dengan hilangnya hutan hilang pulalah kekayaan jenis-jenis flora dan fauna kita. Akibatnya, kita bukan saja kehilangan kualitas hidup dan sumberdaya yang dapat dimanfaatkan secara lestari, namun juga harus bersiap-siap untuk menuai lebih banyak bencana.
Banjir besar di Jakarta tahun 2002, tanah longsor di Pacet, Mojokerto yang menewaskan 31 orang, dan yang terbaru banjir bandang di Sungai Bohorok yang menewaskan 90-an orang plus puluhan atau mungkin ratusan lainnya yang hilang adalah contoh-contoh bencana yang mulai dituai akibat kerusakan hutan sebagai daerah tangkapan air. Kitapun tentunya belum lupa dengan kekeringan yang telah menyebabkan rawan pangan di sebagian Pulau Jawa beberapa bulan lalu.
Dalam banyak kasus seperti itu, penyebab kerusakan hutan biasanya bukanlah mereka yang secara langsung akan menanggung bencana yang terjadi. Namun, secara nasional kita semua jelas dirugikan. Oleh sebab itu, intervensi pemerintah merupakan salah satu kunci penyelesaian permasalahan. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengatur misalnya agar masyarakat di hulu sungai yang merupakan daerah tangkapan air memiliki insentif yang cukup untuk mau menjaga hutan. Sebaliknya masyarakat hilir harus berani membayar lebih untuk ‘pengorbanan’ masyarakat di hulu.

sumber: Harian umum sinar harapan Senin, 22 September 2008

Kelaparan dan Kemiskinan di Indonesia

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 3:23 am

PALING sedikit 23,63 juta penduduk Indonesia terancam kelaparan saat ini, di antaranya 4,35 juta tinggal di Jawa Barat. Ancaman kelaparan ini akan semakin berat, dan jumlahnya akan bertambah banyak, seiring dengan Mereka yang terancam kelaparan adalah penduduk yang pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp 30.000,00.
Di antara orang-orang yang terancam kelaparan, sebanyak 272.198 penduduk Indonesia, berada dalam keadaan paling mengkhawatirkan. Dari jumlah itu, sebanyak 50.333 berasal dari Jawa Barat, di antaranya 10.430 orang tinggal di Kabupaten Bandung dan 15.334 orang tinggal di Kabupaten Garut. Mereka yang digolongkan terancam kelaparan dengan keadaan paling mengkhawatirkan adalah penduduk yang pengeluaran per kapitanya di bawah Rp 15.000,00 sebulan.
Angka-angka ancaman kelaparan itu dapat disimak dalam laporan Survei Sosial Ekonomi Nasional 1996 dalam buku “Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia 1996″ yang dipublikasikan Biro Pusat Statistik, dan buku “Data Sosial Ekonomi Masyarakat Jawa Barat Tahun 1996″ yang dipublikasikan Kantor Statistik Provinsi Jawa Barat.
Karena data dalam laporan itu diperoleh pada tahun 1996, saat Indonesia belum terpuruk dalam krisis ekonomi, maka sudah selayaknya perlu disimak dengan lebh hati-hati. Salah satu rambu kehati-hatian yang diperlukan adalah keadaan Indonesia saat ini yang ditandai dengan meroketnya harga, sedangkan pendapatan penduduk merosot yang antara lain disebabkan oleh banyaknya orang yang terkena PHK. Ada kemungkinan angka tahun 1996 itu lebih baik daripada keadaan Indonesia 1998. (Pada saat makalah ini ditulis, penulis belum membaca buku “Statistik Kesejahteraan Rakyat 1997″ yang diterbitkan BPS, Maret 1998).
Dalam keadaan yang begitu berat, sebagian penduduk Indonesia terpaksa mengais sah untuk mempertahankan hidupnya, seperti terpang dalam cover majalah internasional Newsweek, 27 Juli 1998, dan Pikiran Rakyat, 6 Agustus 1998.

sumber: Hanif’s Homepage

sumber:

Banjir, Lecutan Kebobrokan Moral

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 3:17 am

Seperti yang sudah diduga oleh banyak orang, masalah banjir besar di wilayah Jabotabek mulai menjadi persoalan besar di kalangan pusat pemerintahan, DPR/DPRD dan masyarakat luas. Perkembangan ini baik sekali. Sebab, masalah banjir ini memang HARUS dijadikan persoalan besar oleh masyarakat luas, termasuk oleh kalangan pemerintahan dan lembaga-lembaga resmi maupun organisasi-organisasi non-pemerintah dan berbagai macam gerakan rakyat. Namun, adalah salah kalau ada fihak-fihak yang mempersoalkan masalah banjir ini hanya dengan tujuan untuk salah-menyalahkan, atau melulu sekadar mencari “kambing hitam” saja. Apalagi, adalah nista sekali, kalau ada fihak-fihak yang “menunggangi” persoalan banjir besar ini, dengan latar-belakang demi kepentingan pribadi, golongan, kelompok, partai, atau dalih agama. Apalagi (!!!), kalau ada rencana, gagasan, upaya, untuk menjadikan masalah banjir ini sebagai sarana untuk melakukan korupsi.
Musibah besar banjir kali ini telah mendatangkan kesengsaraan yang memedihkan hati banyak sekali orang, dan menimbulkan kerugian benda dan jiwa yang tidak sedikit pula. Menurut Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, banjir menggenangi 42 kecamatan di Jakarta (100 persen) dengan 168 kelurahan (63,4 persen). Luas genangan mencapai 16.041 hektar atau 24,25 persen dari luas DKI Jakarta dengan ketinggian air tertinggi lima meter. Korban banjir sebanyak 381.266 jiwa dan menelan korban jiwa sebanyak 21 orang (Kompas, 5 Februari 2002). Mengingat skalanya yang begitu besar, maka jelaslah kiranya bagi banyak orang bahwa masalah ini tidak cukup dengan dihadapi dengan menjadikannya sebagai agenda sosial, atau agenda kemanusiaan saja. Musibah besar ini ada kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup, tata-kota, pelayanan sosial, pengaturan kependudukan, anggaran pemerintahan, perijinan pembangunan, dan juga kebersihan moral aparat pemerintahan. Singkatnya, persoalan banjir Jabotabek ini juga berkaitan erat dengan masalah politik, dan …..moral.
Memang, kita patut menghargai bantuan uang, bahan makanan, mi instan, beras, gula, pakaian, selimut, obat-obatan, yang telah diberikan oleh berbagai fihak (pemerintah dan beraneka-ragam golongan dalam masyarakat) kepada begitu banyak orang yang menderita. Kita perlu salut dengan didirikannya posko-posko dan dapur umum. Sebab, tindakan urgen yang perlu bersama-sama dilakukan dengan cepat atau segera adalah memberikan pertolongan kepada ratusan ribu orang yang sangat menderita dewasa ini. Namun, di samping itu, perlulah kiranya masyarakat juga ikut mempersoalkan atau memikirkan berbagai masalah penting lainnya yang berkaitan dengan musibah besar ini.

KE MANA BIAYA PENGENDALIAN BANJIR 2001 ?
Sekarang makin jelaslah bagi banyak orang bahwa musibah banjir di wilayah Jabotabek (juga yang di daerah-daerah lain negeri kita) tidak bisa dihadapi dengan sikap “sebagai cobaan Tuhan” saja dan menganggapnya hanya sebagai takdir yang harus diterima dengan ketawakalan dan kesabaran. Sebab, banyak juga faktor kesalahan ulah manusia, yang bisa dikaitkan dengan musibah ini. Kesalahan-kesalahan inilah yang harus diteliti bersama-sama, untuk kemudian bisa dikoreksi, demi kepentingan bersama. Contohnya cukup banyak, dan di antaranya adalah yang berikut.
Menurut satu tulisan dalam harian Sinar Harapan (5 Februari 2002), “seharusnya untuk menghadapi musim penghujan tahun ini, Pemda Jakarta sudah melakukan langkah-langkah pencegahan. Misalnya, melakukan pengerukan kali dan perbaikan drainase, serta mempersiapkan pertolongan bagi masyarakat korban. Bukannya malah menggusur masyarakat dengan alasan untuk mengantisipasi datangnya musim penghujan. Tragisnya lagi, untuk membiayai penggusuran tersebut Pemda tidak tanggung-tanggung mengalokasikan untuk Dinas Tramtib sebesar Rp 118,660 miliar. Dalam RAPBD untuk 2002, Pemda Jakarta mengalokasikan dana. untuk pengendalian banjir sebesar Rp 294 miliar. Ini merupakan suatu kenaikan yang besar, sebab anggaran untuk subsektor yang sama dalam tahun 2001 adalah sebesar Rp 250 miliar. Dan inilah yang tidak dilakukan oleh Pemda DKI. Oleh karena itu, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) selaku lembaga yang concern terhadap persoalan transparansi dan akuntabilitas kebijakan publîk, menuntut agar Pemda DKI Jakarta bertanggung jawab terhadap kegagalannya dalam menangani masalah banjir di DKI. Perlu ditelusuri ke mana larinya dana Rp.250 milyar (anggaran tahun 2001), yang diakui oleh Pemda digunakan untuk mengatasi banjir, padahal hasilnya tidak ada.”, demikian ditegaskan oleh tulisan yang berjudul “Ke mana biaya pengendalian banjir 2001” itu.

29 LSM DESAK SUTIYOSO MUNDUR

Dari siaran-siaran radio, televisi, dan pers tentang banjir di wilayah Jabotabek selama sekitar 10 hari yang lalu, nyata jelas bahwa pemerintahan DKI Jakarta telah bertindak lamban dalam menghadapi berbagai persoalan parah yang dihadapi oleh penduduk. Kalaupun bertindak, maka tidak sepadan dengan urgennya persoalan dan besarnya skala musibah besar ini. Oleh karena itulah maka (pada tanggal 5 Februari 2002) sekitar 29 LSM menggelar aksi demontrasi ke gedung DPRD Tingkat I DKI Jakarta Pusat. Mereka mendesak Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mundur dari jabatannya.
“Kami juga minta agar eksekutif dan legislatif DKI Jakarta mempertanggungjawabkan secara hukum segala tindakan, kebijakan dan manipulasi, khususnya yang berkaitan dan menyebabkan terjadinya banjir,” ungkap mereka. Dari 29 LSM yang diwakili masing-masing oleh satu orang itu, hadir diantaranya Wardah Hafidz dari UPC, Nursyahbani Katjasungkana dari Tim Pembela Hukum Orang Miskin, Tini Hadad dan Zoemrotin dari YLKI. .

Masing-masing perwakilan LSM meminta agar Sutiyoso mundur. Juga agar dimasa depan, sistem pemilihan pejabat publik seperti gubernur, anggota DPRD dan walikota harus dilakukan melalui cara pemilihan langsung oleh warga kota. Delegasi LSM itu juga menilai, bahwa banjiir di awal tahun 2002 ini merupakan wujud dari kondisi kota yang berada di ambang kehancuran. Hal itu diakibatkan pengelolaan kota yang tertutup, korupsi dan represif dan hanya memperhatikan kepentingan elit. Dalam dialog dengan sejumlah anggota DPRD itu sempat terjadi ketegangan. Pasalnya, LSM menuding bahwa mobil sedan yang diperoleh anggota dewan berasal dari dana banjir di Jakarta. Anggota dewan membantahnya. Namun saat didesak LSM dari mana anggota dewan memiliki dana untuk memperoleh mobil sedan, anggota dewan tidak bisa menyebutkan dari mana. (dikutip dari Detikcom, 5 Februari 2002).

Aksi 29 LSM ke DPRD DKI ini merupakan peristiwa penting, karena mengandung muatan politik yang cukup berat dan juga pesan moral yang kuat. Dialog yang sebagian juga disiarkan oleh SCTV (Liputan 6) dan bisa juga dilihat di Paris (lewat Internet, dengan menggunakan Real Player) ini bisa menjadi inspirasi bagi perjuangan banyak LSM dan gerakan-gerakan rakyat di seluruh negeri. Sebab, apa yang terjadi di DPRD Jakarta juga telah sering dan banyak terjadi di tempat-tempat lainnya. Ketika DPR atau DPRD adem-ayem saja tentang masalah-masalah parah seperti banjir besar kali ini, maka peran berbagai LSM atau organisasi-organisasi kemasyarakatan lainnya adalah sangat diperlukan. Ketika banyak “wakil rakyat” sudah terbeli oleh uang, maka terpaksalah rakyat menyalurkan suara mereka dengan jalan dan cara yang lain.
MENGGUGAT PEMERINTAH ADALAH BENAR

Aksi-aksi LSM, atau berbagai organisasi dan gerakan kemasyarakatan lainnya, yang berkaitan dengan banjir di Jakarta kali ini amat penting artinya. (Walaupun ada di antara pejabat, anggota-anggota DPRD, atau berbagai “tokoh” kalangan atas, yang mencemoohkan, menganggap enteng, atau bahkan memusuhi mereka). Bukan saja karena begitu banyak LSM itu telah menuntut mundurnya Gubernur Sutiyoso, melainkan juga karena akan melancarkan class action (gugatan kelompok) terhadap pemerintahan Jakarta dan Pemerintah Pusat. Dan, melancarkan class action kepada Pemda DKI dan Pemerintah Pusat tentang masalah-masalah banjir ini tidak hanya penting sekali dalam memperjuangkan kepentingan yang adil bagi masyarakat luas yang menderita karena kerugian benda dan jiwa, melainkan juga merupakan langkah penting guna mendobrak kebobrokan di kalangan pemerintahan dan di kalangan masyarakat.

Class action terhadap pemerintah ini akan merupakan pengalaman penting dalam kehidupan bernegara kita. Sebab, gugatan-bersama oleh gabungan LSM ini akan bisa merupakan dorongan atau gugahan bagi banyak kalangan dalam masyarakat untuk lebih berani bersama-sama menyatakan pendapat, melancarkan kritik, mengawasi tindakan-tindakan pemerintah atau pejabat-pejabat (termasuk para konglomerat) yang merugikan kepentingan rakyat. Banjir besar di wilayah Jabotabek kali ini ( juga di daerah-daerah, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur) merupakan kesempatan yang ideal untuk mengembangkan perjuangan semacam ini.

Sebab, seperti yang sudah disuarakan oleh berbagai kalangan, banyak kerugian dan penderitaan masyarakat bisa dicegah (atau dikurangi) seandainya pemerintah dan DPR/DPRD (baik yang lalu maupun yang sekarang) mengelola pemerintahan dengan lebih serius, lebih jujur, atau lebih bersih. Kasus dirusaknya lingkungan alam di daerah Bogor dan Puncak oleh pembangunan villa atau rumah-rumah mewah, atau pembangunan Pantai Indah Kapuk di daerah Jakarta adalah manifestasi yang gamblang tentang buruknya kolusi antara pejabat-pejabat (dan anggota-anggota DPRD) yang bisa dibeli oleh para pengusaha besar.
Berkat kekuatan “uang haram” inilah banyak ijin pembangunan bisa diperoleh dengan gampang, peraturan-peraturan bisa dilanggar, pengawasan dan kontrol pemerintah bisa dikebiri atau dilumpuhkan. Demi mengejar uang, baik para pengusaha besar maupun pejabat-pejabat korup telah merusak lingkungan hidup, dan ……mendatangkan banjir!
AWASI KE MANA MENGALIRNYA UANG!

Banjir besar kali ini telah membuka mata banyak orang terhadap keburukan praktek-praktek korupsi dan kolusi yang sudah terjadi selama puluhan tahun. Gubernur Sutiyoso digugat oleh banyak kalangan karena ketidaksiapan Pemda DKI dalam mengantisipasi bahaya banjir dan keterlambatannya dalam memberikan pertolongan kepada para korban. Juga dipersoalkan tentang penggunaan dana sebesar Rp 500 milyar yang dialokasikan untuk pencegahan banjir. Banyak persoalan lainnya, yang berkaitan dengan masa lalu, akan terbongkar (antara lain soal Pantai Indah Kapuk). Dari segi inilah kita bisa memandang bahwa peristiwa banjir ini merupakan pendidikan politik yang jarang taranya.

Namun, di samping menuntut pertanggungan jawab tentang apa yang sudah terjadi, adalah amat penting bagi kita semua untuk bersama-sama mengawasi, dengan kewaspadaan yang tinggi, apa yang sedang terjadi dan akan terjadi dalam masa dekat ini. Sebab, sebagai akibat banjir ini, berbagai projek rehabilitasi dan pembangunan sedang dipersiapkan dan akan dilaksanakan di banyak bidang. Karena kerusakan atau kerugian banjir amat besar, maka banyaknya projek-proyek rehabilitasi juga akan menyangkut jumlah uang yang besar sekali! Bahkan, sangat sangat besar !! Mengingat kebudayaan korupsi yang sudah begitu lama merajalela dan kebobrokan moral di kalangan para “elit” yang sudah sama-sama kita saksikan selama ini, maka segala jalan perlu ditempuh bersama-sama – dan dengan segala cara pula – supaya maling-maling besar itu tidak bisa dengan leluasa terus menjalankan kejahatan mereka terhadap negara dan rakyat.

Sekadar untuk menyebutkan beberapa di antara berbagai projek itu adalah yang sebagai berikut : Pemerintah DKI Jakarta akan mengeluarkan RP 505 milyar ($49 juta) untuk berbagai projek rehabilitasi. Jumlah uang ini (Rp 505 000 000 000) adalah tidak sedikit!. Pekerjaan Umum DKI memerlukan Rp 53 milyar, karena 70 % jalan di DKI perlu diperbaiki. Dinas Pendidikan DKI merencanakan menggunakan sebagian alokasi dana sebesar Rp 500 milyar untuk perbaikan ratusan sekolah. Dinas Kebersihan Kota harus memperbaiki 700 truk sampah yang rusak karena banjir. (Angka-angka menurut Jakarta Post). Pemerintah sedang merencanakan pembangunan rumah susun (rusun) bagi 30 000 keluarga yang selama ini tinggal di bantara sungai. Uni Eropa menyatakan rasa prihatin dan solidaritas kepada masyarakat Indonesia yang mengalami musibah banjir dan bertekad memberi bantuan dana sebesar Rp 20 miliar. Banyak negara-negara lainnya juga memberikan bantuan darurat.

Pemerintah akan mengalokasikan dana total Rp 12 triliun (Rp 12 000 000 000 000) selama 10 tahun untuk merehabilitasi kota Jakarta, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) akibat bencana banjir. “Anggaran Rp 1,2 per tahun itu digunakan untuk melakukan pembangunan sarana dan infrastruktur yang rusak pascabanjir. Jadi, di masa datang ini akan banyak sekali dana yang disediakan untuk berbagai projek pembangunan atau rehabilitasi. Oleh karena itu, sebanyak mungkin kalangan dari masyarakat perlu berjaga-jaga dengan kewaspadaan tinggi supaya uang ini jangan sampai mengalir ke arah yang sesat. Sebab, segala macam maling-maling kelas kakap akan mecari beraneka-ragam cara untuk menyalahgunakan kesempatan ini.

Rehabilitasi banjir kali ini (baik yang di Jabotabek maupun di daerah-daerah) akan makan waktu panjang dan uang yang banyak. Adalah kewajiban kita semua untuk menjadikan segala program dan projek rehabilitasi ini juga sebagai REHABILITASI MORAL. Oleh karena rusaknya moral banyak orang umumnya adalah karena masalah uang haram, maka perjuangan besar-besaran melawan uang haram adalah amat penting bagi penegakan hukum, bagi terselenggaranya pemerintahan yang baik, bagi terlaksananya petunjuk amar makruf nahi mungkar ( menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah yang bathil). Kalau tidak, banyaknya uang yang akan dikucurkan oleh pemerintah (ingat: ini uang rakyat!) untuk rehabilitasi bisa mendatangkan kerusakan lainnya, yaitu : kerusakan moral.

Dalamkaitan ini, menghujat, mengutuk, menuding-nuding, menjelek-jelekkan, menghantam, memojokkan, menghina para koruptor adalah BENAR.! Segala bentuk perjuangan untuk melawan KKN adalah mulia. Dan, perjuangan ini bukan hanya ditujukan kepada para koruptor yang sudah melakukan kejahatan-kejahatan selama Orde Baru, melainkan juga yang di masa kini dan di masa datang. Tanpa dibersihkannya negara kita dari koruptor-koruptor besar, maka banyak urusan akan tetap kacau, atau macet, atau rusak. Sebab, para pelaku KKN adalah perusak hukum dan penghancur norma-norma keadilan dan kejujuran.

Para koruptor ini bukan hanya merusak iman mereka sendiri, tetapi (yang lebih jahat lagi!) juga merusak iman banyak orang lain, atau mengajak orang-orang lain menempuh jalan sesat. Di antara mereka ini banyak yang mengkhianati sumpah jabatan mereka (dengan janji-janji di depan Alquran atau Kitab Injil), atau yang sudah naik haji ke tanah suci, atau sering sembahyang di mesjid (atau gereja). Dosa kejahatan mereka ini berlipatganda.lagi, karena banyak di antara mereka ini adalah orang-orang yang sudah kaya-raya. Jadi mereka melakukan kejahatan ini bukan karena kehidupan yang sempit, melainkan karena fikiran yang nista.

Berbagai pekerjaan rehabilitasi sesudah banjir ini akan menimbulkan kerusakan lebih besar lagi, kalau KKN tidak dijadikan sasaran perbaikan. Dan, ketika utang negara sudah begitu besar, atau perekonomian sudah begitu buruk oleh karena ulah oknum-oknum tidak bermoral, serta kehidupan rakyat sudah begitu sulit, maka membiarkan maling-maling besar terus bebas beroperasi adalah dosa besar bagi kita semua. Banjir besar dan pekerjaan rehabilitasi harus dijadikan juga oleh MASYARAKAT LUAS untuk melakukan dobrakan-dobrakan dalam memberantas korupsi, membangun solidaritas, menanam kebersamaan baru, kesadaran bermasyarakat baru dan membangkitkan kesadaran bernegara baru.

sumber: Umar Said Personal Website

Tragedi Basse di Negara Pancasila

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 2:55 am

Kamis, 06 Maret 2008 ( Bersihar Lubis, Wartawan tinggal di Depok ), Ibu hamil tujuh bulan yang meninggal dunia karena tiga hari kelaparan tidak makan di Makassar itu, menjadi berita nasional. Hanya berselang lima menit setelah ibu empat anak ini, Nyonya Dg Basse, 27 tahun meninggal dunia, putranya yang ketiga, Bahir, 5 tahun, menyusul sang ibunda menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sedemikian miskinnya, Basri, 40 tahun, suami Basse adalah seorang pengayuh becak yang gemar mereguk alkohol. Mungkin untuk melupakan penderitaan, meski hanya sesaat, suatu alternatif yang tak terpuji.
Namun seberbahaya peluru tentara lebih berbahaya lagi perut yang lapar. Maklum, saban hari mereka hanya mampu memakan nasi bubur tanpa sayur dan lauk pauk ikan, apalagi telur dan daging. Bahkan hanya bergulai minyak goreng bekas yang tidak hygenis. Kerap pula nasi berteman garam belaka. Hari itu pun tiba, 29 Februari 2008 silam, Dg Basse dan Bahir pergi mengetuk ”pintu” Tuhannya, dan tak kembali lagi. Innalilahhiwainnail ahirajiun.
Kita kenang lagi Slamet, penjual gorengan yang mati bunuh diri pada 16 Januari 2008 lalu di Pandeglang, Banten, karena ia tak mampu membeli tempe setelah kacang kedelai melonjak 100 persen dari Rp3.500 sekilogram. Kisah sejenis kerap membuat kita terkesiap dan trenyuh, seperti tewasnya belasan penduduk Nusa Tenggara Barat pada 2005 lampau, karena mengidap busung lapar, justru di daerah lumbung padi.
Siapa gerangan yang menghadapkan Basse dan putranya menempuh lorong yang kelam di Negara Pancasila ini? Benarkah negara telah memerosokkkan orang-orang malang itu ke pojok alternatif yang paling mengerikan? Basse susah hidupnya, meskipun UUD 1945 menegaskan bahwa orang miskin dan anak terlantar diperlihara oleh Negara. Apakah APBN kita sedemikian kapitalis sampai melupakan berjuta orang seperti Basse? Padahal negeri kapitalis di Eropa dan Amerika bisa lebih sosialis dengan berbagai subsidi kepada orang miskin.
Tak disangkal, pemerintahan Yudhoyono telah menetapkan kebijakan yang pro kaum miskin. Beberapa tahun terakhir ini telah diluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Miskin, yang menyalurkan beras miskin (raskin) kepada penduduk miskin. Tahun demi tahun bujetnya menaik, yang menandai bahwa pemerintah peduli kepada masyarakat miskin. Tapi mengapa Basse dan keluarganya tak tersentuh?
Ekonomi vs Sosial
Seperti biasa, pledoi pun bermunculan. Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajudin menyebut bahwa keluarga Basse tak terdata di kotanya. Ia pendatang dari luar kota. Dibantah pula, keluarga Basse tak mengidap busung lapar, melainkan terkena diare. Penduduk sekitar pun tak segera membawa keluarga Basse ke rumah sakit, padahal ada Kepala RT, RW dan warga. Begitulah, yang kita dengar dalam acara Economics Challenger di MetroTV yang dipandu Desy Anwar itu, Selasa 3 Maret 2008 lalu.
Deputi Menko Kesra Sudjana Royat juga menyoal tak berfungsinya secara efektif kelompok masyarakat yang dibentuk dengan program nasional pemberdayaan itu. Pemerintah pusat hanya penentu kebijakan, sedang implementasi di tangan daerah. Kira-kira, atas sudah oke tapi bawah belum. Aneh. Bukankah, ”atas” dan ”bawah” itu, sama-sama pemerintah?
Untunglah, Imam Sugema, ekonom INDEF itu mengingatkan bahwa raskin itu hanya diterima oleh 30 persen dari orang miskin, baik karena tidak terdata, maupun karena penerimanya bukan orang yang berhak. Bahkan, jika angka garis kemiskinan dibatasi pada yang berpendapatan 50 sen dolar AS sehari, sesungguhnya orang-orang yang berpendapatan di atas 50 sen dolar AS pun masih merasa dan terkategori miskin, apalagi digenjot inflasi yang terjadi saban tahun.
Tak terhindarkan lagi, ternyata program dengan implementasi yang tidak efektif ibarat batangan es yang meleleh dan kopong dalam perjalanan. Faktor penunjang, yang sifatnya nonteknis tidak diperhitungkan, seperti kesiapan aparat di daerah. Tak terkecuali warga di kelurahan dan pedesaan hanya diperlakukan sebagai obyek, dan belum merupakan subyek gerakan pemberdayaan kaum miskin, sehingga membuat program bersifat elite. Rakyat hanya menjadi penonton.
Apa boleh buat, orang-orang seperti Basse bagaikan man stand alone. Padahal, kata Jaspers, the man non stand alone. Kesendirian, solitariness, atau dibikin sepi, telah membuat Basse dan berjuta lainnya, menjadi kalah dan dikalah-kalahkan. Tanggung jawab sosial, dalam bahasa filsuf Heidegger, mestilah ditularkan oleh kabinet Yudhoyono-Jusuf Kalla sehingga menjadi fakta sosial.
Kasus Basse sudah mengemuka sejak awal Orde Baru. Kala itu, arsitek perekonomian pemerintah seperti Wijoyo Nitisatro cs lebih mengutamakan pembangunan ekonomi, dan membelakangkan pembangunan sosial yang disuarakan oleh sosiolog Selo Soemarjan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi melejit tapi problem sosial seperti jurang kaya dan si miskin menganga lebar. Mengapa paradigma itu tak didekonstruksi saja, atau dilakukan secara berimbang?
Tidak siapnya aparat pemerintah di tingkat operasional, maupun miskinnya kepedulian penduduk jelas merupakan problem sosial yang perlu dibangun, sehingga pada gilirannya tidak gagap dan gugup menerima pembangunan perekonomian, termasuk pemberdayaan masyarakat miskin. Sebelum pembangunan perekonomian take off, mestilah diawali dengan pembangunan insan pembangun alias pembangunan sosial. Dengan cara itu, program apapun yang mengatasnamakan rakyat menjadi tidak elit, tetapi disangga oleh masyarakat secara partisipatif. Penduduk menjadi subyek, bukan obyek yang cuek.
Menganggap kemiskinan semata karena bodoh, malas, tak modern, tidak punya kapital adalah kesombongan intelektual kaum developmentalisme ala Rostow dan Mc Cleland. Seseorang menjadi petani gurem, mungkin, karena kaum pemodal telah membeli tanah rakyat dengan harga sebatang rokok per meter, dan kemudian membangun lapangan golf atau pabrik di pedesaan. Atau karena tidak punya akses kepada market dan luput dari perhatian pemerintah, seperti Basse. Benarkah ekonom Andre Gunder Frank yang berkata, bahwa agar bisa kaya harus ada yang dimiskinkan?

sumber: www.riautoday.com

Pembangkit Listrik Tenaga Mikroba

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 2:50 am

Semakin menipisnya cadangan energi yang tak terbaharukan untuk pembangkit energi listrik, membuat para peneliti bekerja keras menemukan alternatif pengganti yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan energi listrik. Salah satu yang sedang dicoba oleh Peneliti dari Universitas Harvard Prof. Peter Girguis kini mengembangkan teknologi pembangkit listrik dari mikroba, menurutnya sekitar 2,8 milyar penduduk dunia tidak punya akses ke sumber listrik.

Walaupun gagasan ini belum sepenuhnya berhasil menggantikan sumber energi lain yang ada, namun penyempurnaan terhadap hasil penelitian akan terus dilakukan sehingga diharapkan akan diperoleh hasil yang optimal.

Gagasan memanfaatkan mikroba untuk membangkitkan listrik kedengarannya ekstrem. Tentu saja daya listrik yang dibangkitkan dari mikroba tak sebesar yang dihasilkan pembangkit listrik konvensional. Penelitian untuk memanfaatkan mikroba sebagai pembangkit energi listrik tersebut saat ini dilakukan oleh Profesor Peter Girguis, pakar mikro-biologi dari Universitas Harvard. Model pembangkit listrik mikroba itu dalam uji coba di laboratorium, saat ini baru mampu mengisi baterai telefon seluler atau menyalakan sebuah lampu LED. Daya listrik yang dibangkitkan memang masih terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, namun sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang paling mendasar di zaman teknologi komunikasi yang semakin maju.

Bakteri Anaerob

Bakteri yang dimanfaatkan untuk membangkitkan energi adalah dari jenis bakteri anaerob, yakni bakteri yang berkembang dalam lingkungan tanpa oksigen. Penelitian menunjukkan, bakteri yang paling efektif membangkitkan listrik antara lain bakteri anaerob yang hidup dari unsur logam, belerang atau gas methan. Menemukan bakteri semacam ini sebetulnya relatif mudah. Cukup bermodal cangkul dan menggalinya di kebun di belakang rumah, kata Peter Girguis. Lebih lanjut disebutkannya :
“Jika kita ingin mencari sumber bakteri untuk membuat sel pembangkit listrik, cari saja habitat tanpa oksigen. Banyak yang tidak tahu, habitat semacam ini ada di kebun kita. Jika kita menggali tanahnya cukup dalam, di sana tidak ada oksigen lagi.“
Tanah yang diberi pupuk kompos merupakan makanan ideal bagi bakteri an-aerob tersebut. Bakteri jenis ini memiliki keunikan metabolisme yang dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Karena sebagai produk buangan dari metabolismenya, bakteri ini melepaskan elektron. Elektron inilah yang dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik.

Peneliti mikro biologi dari Universitas Harvard Peter Girguis secara sederhana menggambarkan model sel pembangkit listrik mikroba yang dibuatnya.
“Pada tanah yang tidak mengandung oksigen kita tanam sebuah elektroda. Misalnya batang grafit dari sebuah pensil atau dari baterei bekas. Pensil harganya murah, baterai bekas bahkan gratis. Pada elektroda ini bakteri akan berkembang biak. Setelah itu kita pasang sebuah batang grafit lain di atas permukaan tanah, yang bertindak sebagai katoda. Jika elektroda dan katoda dihubungkan mengunakan kabel yang dilengkapi sirkuit saklar, kita memiliki sumber listrik. Sakelar hanya berfungsi menyambung atau memutus aliran listriknya.”

Daya kecil

Daya listrik yang dihasilkan model sel pembangkit listrik bakteri itu, memang baru mampu menyalakan sebuah lampu LED atau mengisi baterai ponsel. Namun saat ini terus dilakukan penelitian intensif untuk meningkatkan kapasitasnya. Uji coba pemanfaatan bakteri untuk menghasilkan litsrik memang sudah dilakukan sejak awal abad ke-20. Akan tetapi ketika itu banyak kendalanya karena sifat bakterinya belum banyak dikenal. Peter Girguis menggambarkan kendala tersebut.
“Sel pembangkit listrik bakteri yang pertama, dibuat dari mikroba yang dikembang-biakan di laboratorium. Para peneliti mencampurkan bahan kimia agar bakteri melepaskan elektron. Bahan kimia ini mahal dan kadang-kadang beracun. Uji cobanya amat rumit karena memerlukan persyaratan tertentu. Misalnya semua harus diaduk rata dengan teliti pada suhu konstan 25 derajat Celsius. Uji cobanya amat mahal dan perlu kerja intensif.“

Selain itu uji coba di laboratorium selama ini tidak memanfaatkan mikro-organisme yang ada di alam, yang sebetulnya amat banyak ragamnya. Karena itu sejak tiga tahun terakhir, Girguis memanfaatkan bakteri yang ada di alam. Selain harganya amat murah juga metodenya tidak lagi terlalu rumit. Juga diperkirakan kerja sama berbagai jenis bakteri memainkan peranan menentukan. Akan tetapi, sejauh ini belum banyak dilakukan penelitian mengenai sifat dan manfaat berbagai jenis mikroba untuk pembuatan sel pembangkit listrik. Peter Girguis menjelaskan apa saja yang ditemukannya pada sampel tanah yang ia teliti.
“Kami menemukan apa yang disebut bakteri bumi yang memakan logam. Bakteri ini memberikan kontribusi amat besar bagi produksi listrik. Kami juga menemukan bakteri lainnya yang hidup dari unsur belerang. Banyak jenis bakteri yang kami temukan belum punya nama, karena belum pernah dibiakkan di laboratorium. Saya perkirakan 99,9 persen mikro-organisme yang ada di dunia belum punya nama. Bahwa mikro-organisme itu eksis kita hanya tahu dari alam.”

Karena itulah penelitian sifat dan dampak timbal balik berbagai jenis bakteri terus dilakukan secara intensif. Dalam waktu dekat ini, tim peneliti dari Universitas Harvard itu akan melakukan uji coba berbagai model sel pembangkit listrik mikroba di sejumlah negara berkembang.

Uji coba sel pembangkit listrik mikroba di negara-negara berkembang memang amat diperlukan. Sebab, sasaran utama pengembangan sel pembangkit listrik mikroba itu adalah untuk memerangi kelangkaan listrik di negara-negara berkembang. Peneliti mikro-biologi dari Universitas Harvard Peter Girguis juga masih terus melakukan penelitian untuk menurunkan ongkos produksi serta mengembangkan model yang lebih bersahabat dengan konsumen.

Alasannya, para konsumen di negara berkembang pun tentu tidak menghendaki harus mengorek-orek sampah untuk dapat memiliki pembangkit listrik. Karena itu sekarang sedang dikembangkan pembangkit listrik mikroba yang memanfaatkan instalasi pembuat kompos bukannya sampah organik mentah sebagai bahan makanan mikrobanya. Kabel listriknya juga dirancang dipasang di rumah, seperti lazimnya instalasi listrik biasa. Dengan itu para konsumen menjadi lebih nyaman karena ketika mengisi baterai ponselnya tidak perlu bersentuhan dengan reaktor sampah.

sumber: DW-World.de

Oktober 11, 2008

kreatifitas dalam media

Filed under: kreativitas — creative4dvanced @ 10:38 am

Media adalah perantara.
Jelas, fungsinya adalah sebagai perantara dari satu tempat ke tempat yang lain, perantara tentang satu hal ke hal lain.

Peran media bagi manusia sangatlah penting. Terutama media informasi.
Tak ada manusia yang tak butuh informasi. Ada yang tahu sebuah informasi, tapi mungkin saja yang lain belum tahu informasi tersebut. Bagaimana cara agar semua mendapat informasi tersebut? Disinilah, media dibutuhkan.

Media informasi telah mengalami perkembangan secara cepat, seiring dengan kebutuhan manusia. Dahulu untuk mendapatkan informasi manusia saling menggunakan bahasa isyarat dengan yang lainnya. Lalu setelah manusia mengenal bacatulis, media informasi sudah merambah bentuk teks, seperti tulisan di surat kabar, majalah, dsb. Sampai saat ini, saat teknologi mulai bangkit, media sudah dapat di akses dalam bentuk digital teks, video, animasi, dan gambar. Atau pada akhirnya kita sebut dengan istilah, multimedia.

Contoh, advertising. Advertising adalah usaha yang bergerak di bidang periklanan, yang berfungsi menyampaikan sesuatu (informasi). Maka tidaklah salah, jika dikatakan bahwa advertising dan media memiliki kaitan yang sangat erat. Di dalam advertising biasanya diberikan sentuhan2 kreatifitas pada media yang akan digunakan untuk menekankan tujuan ataupun untuk menarik konsumen lebih banyak lagi.

Beberapa contoh advertising rokok dengan sentuhan kreatifitas pada media.

Project NASA

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 10:01 am

Sejarah mencatat, Rusia (Uni Soviet) adalah bangsa pertama yang berhasil mencapai ruang angkasa.

Dimulai di tahun 1957, Rusia memulai sebuah perlombaan teknologi ruang angkasa dengan menerbangkan Sputnik dan dilanjutkan pada 1961, Yuri Gargarin adalah manusia pertama yang berhasil terbang di atas orbit bumi dengan pesawat Vostok I.

Kemajuan Rusia ini membuat geram Amerika Serikat, membuat NASA (badan antariksa terhebat yang dimiliki Amerika) gigit jari, kita tahu kedua negara ini sedang dalam situasi perang dingin dan selalu saling bersaing terutama dalam teknologi.

Kreatifitas bisa muncul darimana saja, dari situasi apa saja. Dalam kasus ini, Amerika ada dalam posisi ‘dipermalukan’, kondisi tertekan. Untuk mengatasinya, Amerika merasa perlu melakukan sesuatu gebrakan untuk bangkit dari rasa kekalahan. Disinilah kreatifitas Amerika bangkit.

Merasa ketinggalan satu langkah di belakang Rusia ini, dibawah intruksi Presiden John F. Kennedy, Amerika mengumumkan program Apollo dengan tujuan mendaratkan manusia di bulan. Sebuah proyek ambisius dengan nilai yang sangat besar waktu itu, mencapai US$20 miliar. Rencana tersebut disetujui oleh kongres Amerika dengan menunjuk NASA sebagai badan yang bertanggungjawab melaksanakan program tersebut. Maka, perlombaan Space Race Technology pun dimulai, dengan target yang lebih besar lagi, Bulan.

Hanya dalam waktu 9 tahun, sejak Apollo 11 diresmikan pada 20 Juli 1969, Apollo 11 dikabarkan telah mendarat di Bulan dengan Neil Amstrong dan Edwin Aldrin sebagai astronotnya, astronot pertama tepatnya. Perjalanan terjauh yang pernah dilakukan manusia, 384.400 km yang diselesaikan 195 jam tanpa pengisian ulang bahan bakar. Hebat. Hebat. Euforia massal melanda dunia!

Berbagai lontaran kekaguman, seremonial, dan diskusi diselenggarakan untuk menyambut keberhasilan misi ini. Tak hanya tanggapan positif yang muncul, tapi banyak pula tanggapan negatif yang ‘menampar’ NASA. Debat publik mulai berkembang di awal tahun 70an, memicu timbulnya berbagai kontroversi di kalangan generasi muda Amerika mengenai tujuan pendaratan Apollo 11 itu sendiri.

Dibawah ini adalah salahsatu video yang menggambarkan pendaratan pertama manusia di bulan.

Kejanggalan-kejanggalan mulai menguap ke hadapan publik, seperti kejanggalan pada pengamatan bayangan, gaya tekan permukaan, latar belakang fotografi, kejanggalan ukuran, perdebatan mengenai solar wind, dan bahaya radiasi kosmik di bulan. Untuk selanjutnya, di blog ini, tidak akan dipaparkan lebih lanjut mengenai kejanggalan-kejanggalan yang muncul tersebut. Karena memang sampai saat ini misteri seputar kejanggalan misi Apollo 11 sudah banyak diperdebatkan di berbagai media. Bahkan sampai kritikan paling ekstrim pun muncul, mengapa NASA membohongi dunia?

Yang saya kagumi disini, justru kreatifitas Amerika (dalam hal ini pihak NASA itu sendiri). Bagaimana kehebatan NASA dalam membuat suatu gebrakan baru dalam dunia teknologi ruang angkasa. Bagaimanapun, dilihat dari sisi teknologi, Apollo 11 dianggap sebuah puncak keberhasian teknologi roket yang telah berhasil membawa awak manusia keluar dari orbit bumi dan mendarat di permukaan bulan.

Selain itu dalam peluncuran ini, sebenarnya NASA telah melakukan promosi yang sangat hebat, promosi yang mampu menyita jutaan pasang mata pada sekali waktu peluncuran. Manajemen bisnis yang besar terutama di bidang media informasi.

Proyek Apollo 11 ini juga paling tidak telah mengajarkan kita bagaimana memandang Bumi, ilmu fisika, ruang angkasa, semangat manusia, dan tentunya mengajarkan kita bagaimana menggunakan daya khayal dan mencoba mengaplikasikannya dalam sebuah karya riil.

Kita sabar menunggu karya-karya lain yang dengan kemampuan tertingginya mencoba menembus batas khayal.

Oktober 6, 2008

how to be creative

Filed under: Uncategorized — creative4dvanced @ 2:08 pm

this is video tell us how to be creative,,

drugs and alcohol will kill your creativity!!!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.